KONSEP KAMA DALAM RAMAYANA DAN MAHABARATHA

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Mahabharata dan Ramayana merupakan dua epos besar yang menceritakan kisah kehidupan raja-raja Hindu di masa lampau. Cerita ini adalah sejarah yang senngguh-sungguh terjadi bagi umat Hindu baik di Bali maupun di India. Dalam cerita Mahabharata dan Ramayana di dalamnya terdapat banyak ajaran agama. Salah satunya adalah ajaran Kama atau hawa nafsu atau keinginan. Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengungkap dan mendalami ajaran-ajaran yang terkandung dalam epos Mahabharata dan Ramayana ini sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia.

Kama sangat erat kaitannya dengan wanita. Ini dinyatakan karena Kama disini berarti hawa nafsu. Hawa nafsu sering ditujukan antara pria dan wanita.

Di dalam hidup ini, nafsu atau keinginan itu sangat penting. Karena tanpa nafsu atau tanpa keinginan, tidak akan ada sesuatu yang dapat dikerjakan, tidak ada sesuatu kreativitas dan itu juga berarti bahwa identitas manusia akan lenyap.

Dalam cerita Mahabharata dan Ramayana banyak sifat-sifat Kama yang tak terkendali yang  ditunjukkan oleh para tokoh ceritanya. Untuk lebih mengetahui tentang bagaimana ajaran Kama di dalam cerita Mahabharata dan Ramayana akan dibahas lebih lanjut didalam pembahasan.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah pengertian dari Kama?
  2. Bagaimanakah konsep Kama dalam cerita Mahabharata dan Ramayana?
  3. Yang mana bagian dari Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan sifat Kama?

1.3  Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan tujuan sebagai berkut:

  1. Untuk mengetahui pengertian dari Kama.
  2. Untuk mengetahui konsep Kama dalam cerita Mahabharata dan Ramayana.
  3. Untuk mengetahui bagian dari  Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan sifat Kama.

1.4  Manfaat Penulisan

Hasil dari pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan umat Hindu khususnya mahasiswa STKIP Agama Hindu Singaraja tentang konsep Kama dalam kisah Mahabharata dan Ramayana. Disamping itu pula, penulis mengharapkan kita sebagai umat Hindu dapat bercermin dari kisah Mahabharata dan Ramayana untuk dapat mengendalikan hawa nafsu dalam diri kita.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Kama

Kama merupakan salah satu bagian dari Catur Purusa Artha. Catur Purusa Artha adalah empat tujuan hidup manusia. Salah satu tujuan hidup manusia yaitu memenuhi keinginan atau nafsu. Sesuai dengan pengertiannya, Kama merupakan hawa nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Objek dari pada kama ini adalah artha yaitu benda-benda duniawi yang dapat memuaskan kama sehingga menjadikan orang nikmat merasakan hidup ini. Tetapi dalam memenuhi tuntutan kama pada artha akan dapat membawa orang pada jurang kesengsaraan apabila tidak atas dasar dharma yaitu kebajikan, kebenaran, peraturan-peraturan yang mendukung orang untuk mendapatkan kebahagiaan. Maka dharma harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntutan kama atas artha.

Dalam sloka 12 kitab sarasamuscaya disebutkan bahwa pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka dharma hendaknya dilakukan lebih dulu. Tak dapat disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama ini nanti. Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia, karena manusia memiliki sepuluh indria yang disebut Dasendria, yaitu:

  1. Srotendriya, yaitu keinginan untuk mendengar
  2. Tvagendriya, yaitu keinginan untuk merasakan sentuhan
  3. Caksvindriya, yaitu keinginan untuk melihat
  4. Jihvendriya, yaitu keinginan untuk mengecap
  5. Ghranendriya, yaitu keinginan untuk mencium
  6. Wangindriya, yaitu keinginan untuk berkata
  7. Panindriya, yaitu keinginan untuk memegang sesuatu
  8. Padendriya, yaitu keinginan untuk bergerak atau berjalan
  9. Payviindriya, yaitu keinginan untuk membuang kotoran
  10. Upasthendriya, yaitu keinginan untuk kenikmatan dengan kelamin

Kesepuluh indriya tersebutlah yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu, karena itu indriya tersebut sangat penting. Perasaan ingin tahu, yang senantiasa menyebabkan manusia memiliki pengetahuan adalah diakibatkan oleh adanya indriya itu juga. Namun indriya itu perlu dikendalikan, karena sering juga dapat menjerumuskan manusia. Kama sering diumpamakan seperti kuda liar yang kalau dapat dikendalikan akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Dalam hubungannya antara keempat bagian dari Catur Purusa Artha ini, Kama atau kesenangan/ kenikmatan menurut ajaran agama tidak akan ada jika diperoleh menyimpang dari Dharma. Oleh karena itu, Dharma menduduki tempat diatas dari Kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaian Kama.

2.2 Konsep Kama dalam cerita Mahabharata dan Ramayana

Kama yang diumpamakan sebagai angin. Tanpa angin yang cukup, perahu tidak akan bisa meluncur maju. Tapi kebanyakan angin topan juga akan menyebabkan perahu terdampar dan menyimpang dari tujuan. Demikian halnya dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Dalam cerita Mahabharata, diceritakan tentang Korawa yang selalu mengumbar nafsu atau keinginannya yang tidak terkendali menghalalkan segala cara, dengan memanfaatkan ayahanda Drestarasta untuk memperdaya Pandawa lewat meja judi yang mana semua itu adalah bentuk nafsu atau Kama dari Korawa yang tak terkendali. Selain itu, Duryodhana (korawa) juga ingin membunuh Pandawa dengan membakar istana kardus.

Begitu pula dalam cerita Ramayana, dimana raja Rahwana dikuasai oleh nafsu atau keinginan jahatnya dengan menculik Sitha, istri sang Rama didalam hutan yang akhirnya membawa kehancuran bagi Rahwana sendiri termasuk juga keluarga dan rakyatnya. Itulah sesungguhnya Kama bila tidak didasari oleh ajaran agama atau dharma (kebenaran) pasti akan membawa kehancuran bagi yanng melaksanakannya.

Sebagai seorang raja seharusnya mampu mencapai Kama melalui pelaksanaan Dharma terhadap orang suci dan rakyatnya. Dalam kekawin Ramayana disebutkan bagaimanakah hendaknya seorang raja dalam pencapaian Kama, sebagai berikut:

Dewakusalasala mwang dharma, ya pahayun mas ya ta pahawreddhin byaya ring hayu kekesan bhukti sakaharepta dwehi ng bala kasukhan dharma mwang artha mwang kama ta ngaran ika.

Artinnya:

            Tempat-temmpat suci hendaknya dipelihara, kumpulkanlah emas yang banyak serta diabdikan untuk pekerjaan yang baik, nikmati kesenangan dengan memberi kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu, itulah yang disebut dharma, artha, dan kama.

            Dalam bait kekewin Ramayana diatas telah dinyatakan bahwa kenikmatan (Kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan kepada orang lain untuk merasakan kenikmatan. Jadi, pekerjaan yang bersifat inin menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh harta dan kenikmatan tidak dilaksanakan.

2.3 Bagian dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan Kama.

2.3.1  Mahabharata

Dalam kisah Mahabharata yang menceritakan tentang keluarga Bharata khususnya, masing-masing tokoh didalamnya banyak sekali yang tidak mampu mengendalikan Kama atau hawa nafsu mereka, yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah besar. Namun, dari hal itulah kita sebagai umat manusia diajarkan bagaimana kita harus mengendalikan Kama atau hawa nafsu agar tidak menimbulkan kehancuran bagi diri sendiri. Berikut ini adalah beberapa bagian dari kisah Mahabharata yang mencerminkan Kama yang tak terkendali, yaitu:

  1. Pertemuan Santanu dan dewi Gangga (Adi Parwa)

Ini adalah bagian pertama dari kisah Mahabharata pada bagian Adi Parwa. Disini diceritakan pertemuan antara raja Santanu, raja yang agung dari Hastinapura, dengan dewi Gangga. Sejak pertama kali melihat, raja Santanu telah jatuh cinta kepada dewi Gangga. Raja Santanu meminta dewi Gangga untuk menikah dengannya. Namun, Gangga memberikan syarat kepada santanu, bahwa Ia tidak boleh melarang Gangga melakukan apapun dan dalam keadaan apapun. Karena diliputi oleh keinginan yang sangat kuat  untuk memiliki dewi Gangga, Tanpa berpikir panjang Santanu mengiyakan syarat itu. Santanu tidak pernah memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Gangga.

Hari demi hari berlalu, dewi Gangga melahirkan putra pertamanya. Namun apa yang Ia lakukan? Gangga menenggelamkan putranya ke dalam sungai. Dan beggitu seterusnya sampai tujuh kali. Disanalah Santanu mengalami sakit hati yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Dari bagian cerita itu kita dapat memetik suatu hal yang sangat penting, bahwa dalam menngambil keputusan kita harus memikirkan baik buruknya. Kita tidak boleh terlalu mengutamakan keinginan untuk memiliki sesuatu.

  1. Kematian Pandu (Adi Parwa)

Pandu adalah ayah dari panca Pandawa. Karena keinginannya untuk menyentuh istrinya yang cantik jelita, akhirnya Ia mati. Ini dikisahkan di tengah hutan, raja Pandu melihat dan memanah sepasang rusa penjelmaan dari seorang Rsi dan istrinya yang sedang memadu cinta. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Rsi itu mengutuk raja Pandu. Kapanpun ketika Pandu dimabuk cinta dan ingin menyentuh tubuh istrinya, saat itulah Pandu akan mati seperti Ia lakukan terhadap rusa itu. Kemudian Pandu dan kedua istrinya Kunti dan Madri, mengasingkan diri ke hutan. Disanalah kemudian lahir panca Pandawa.

Suatu hari dimusim semi, di taman hutan Satasrga, raja Pandu melihat istrinya (Madri). Ia adalah wanita yang sangat cantik. Siluet tubuhnya membangkitkan hawa nafsu suaminya yang telah lama tertahan. Karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsu atau Kama dalam dirinya, akhirnya raja Pandu menemui kehancurannya. Ketika Ia memeluk istrinya, Ia langsung mati.

Dari cerita itu kita diajarkan bagaimana kita harus menghormati orang lain dan harus mampu mengendalikan sifat Kama dalam diri kita. Dalam Asta Dasa Parwa, itu diceritakan pada bagian Adi Parwa.

            Selain dua contoh diatas, masih ada banyak tokoh yang menujukkan Kama yang tak terkendali. Misalnya Duryodhana. Duryodhana adalah saudara  tertua dari seratus Korawa. Ia memiliki sifat irihati, dengki, sombong, dan serakah. Duryodhana tidak pernah menghargai dan menghormati nasehat orang yang lebih bijaksana. Karena keinginannya untuk merebut tahta kerajaan Hastinapura dari tangan Pandawa, Ia menghalalkan segala cara untuk merebut dan membunuh panca Pandawa.

            Keinginan Duryodhana tidak pernah dilandasi dengan dharma. Seperti yang telah dijelaskan dalam pengertian Kama, bahwa apabila Kama tidak dilandasi dengan pelaksanaan dharma, maka akan membawa kehancuran bagi diri sendiri. Itulah yang akhirnya dialami oleh korawa, dan Duryodhana Khususnya.

            2.3.2 Ramayana

            Ramayana adalah sebuah epos yang menceritakan riwayat perjalanan Rama atau sering dikenal dengan gelar Ramadewa. Rama sebagai tokoh utama dalam epos itu adalah penjelmaan dewa Wisnu yang di dalam kitab Purana disebut sebagai salah satu avatara dari sepuluh avatara wisnu. Kitab Ramayana merupakan hasil karya terbesar dari maharsi Walmiki.

            Dalam cerita Ramayana diceritakan Rahwana, raja Alengka, yang menculik istri Rama ditengah hutan. Rahwana memiliki sifat yang angkuh, dan sombong. Dan selalu mengghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Dalam hidupnya, Rahwana tidak pernah melaksanakan dharma. Dirinya selalu diliputi oleh Kama buruk. Berikut ini adalah bagian dari kisah Ramayana yang menunjukkan Kama atau keinginan-keinginan yang menyimpang dari dharma, yaitu:

  1. Aranyaka Kanda

Dalam bagian aranyaka kanda diceritakan bertemunya Rama dengan Surpanaka (adik perempuan Rahwana) ditengah hutan. Dimana Surpanaka yang merupakan seorang raksasa yang merubah dirinya menjadi gadis cantik untuk mendekati Laksamana. Ia jatuh cinta pada Laksamana. Laksamana tahu bahwa gadis itu adalah raksasa, kemudian laksamana marah dan langsung memotong telinga dan hidung Surpanaka.Surpanaka tidak terima dengan perlakuan Laksmana dan melapokan itu pada Rahwana.

Rahwana kehutan untuk membalaskan dendam adiknya. Disana Ia melihat Sitha yang sangat cantik. Rahwana jatuh cinta pada Sitha. Untuk mendapakan perhatian Sitha, rahwana menyamar sebagai Brahmana yang kelaparan. Kemudian rahwana membawa lari sitha dari Rama ke Alengka pura. Dari perbuatan rahwana itu menimbulkan kemarahan dan terjadi peperangan antara Rama dan Rahwana. Yang pada akhirnya Rahwana yang merupakan tokoh adharma mengalami kehancuran pada dirinya sendiri dan rakyatnya.

Dari bagian cerita diatas, kita dapat petik nilai bahwa kita tidak boleh menginginkan, apalagi sampai merebut istri orang lain seperti yang dilakukan oleh Rahwana.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan penulis diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kama merupakan salah satu bagian dari Catur Purusa Artha. Kama merupakan hawa nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup.
  2. Konsep Kama dalam cerita Mahabharata yaitu, Korawa yang selalu mengumbar nafsu atau keinginannya yang tidak terkendali menghalalkan segala cara, dengan memanfaatkan ayahanda Drestarasta untuk memperdaya Pandawa lewat meja judi yang mana semua itu adalah bentuk nafsu atau Kama dari Korawa yang tak terkendali.

Begitu pula dalam cerita Ramayana, dimana raja Rahwana dikuasai oleh nafsu atau keinginan jahatnya dengan menculik Sitha, istri sang Rama didalam hutan yang akhirnya membawa kehancuran bagi Rahwana sendiri termasuk juga keluarga dan rakyatnya. Itulah sesungguhnya Kama bila tidak didasari oleh ajaran agama atau dharma (kebenaran) pasti akan membawa kehancuran bagi yang melaksanakannya.

  1. Bagian dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan Kama yaitu:
    1. Bagian yang mencerminkan Kama tak terkendali dalam kiisah mahabharata yaitu pada bagian pertemuan raja Santanu dan dewi Gangga dan pada saat kematian raja Pandu. Ini diceritakan pada bagian Adi Parwa.
    2. Bagian yang mencerminkan Kama tak terkendali dalam kisah Ramayana yaitu pada bagian Rahwana yang jatuh cinta kepada Sitha dan menculik Sitha di tengah hutan.

3.2    Saran

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diaatas, maka penulis dapat mengajukan saran bahwa sebagai umat hindu kita harus mampu memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam epos Mahabharata dan Ramayana sebagai cerminan dalam kehidupan di dunia ini. Selebihnya lagi bagaimana kita harus mampu mengendalikan unsur kama atau hawa nafsu yang ada dalam diri manusia agar tidak menjadi penghancur kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Awanita, Made dkk. 1994. Sila dan Etika Hindu. Universitas Terbuka.

Bantas, I Ketut dan Djelantik, Gde Ketut. Sarasamuscaya. Universitas Terbuka.

http://wikipedia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s