DEMOKRASI PEMBELAJARAN DAN JOYFULL LEARNING

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.         DEMOKRASI PEMBELAJARAN

1.1  .Pengertian Democratic Teaching (Pembelajaran Demokrasi)Gambar

Pengertian tentang demokrasi dapat dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis). Secara etimologis “demokrasi” terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “demos” yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan “cratein” atau “crotos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara bahasa demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) adalah keadaan negara dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat. Kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintah rakyat dan kekuasaan oleh rakyat :

Jague dan Briggs (1979:3) instruction atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.

Menurut Eggan dan Kanchak (1998) menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran yang efektif, yaitu: 

  1. Siswa menjadi mengkaji yang aktif terhadap lingkungan melalui observasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan.
    1. Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran.
    2. Aktivitas-aktivitas siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian.
    3. Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dalam menganalisis informasi.
      1. Orientasi pembelajaran dan pengembangan keterampilan berfikir, serta
      2. Guru menggunakan teknik mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan gaya mengajar guru.

Pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik, agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.

Bangsa indonesia yang tengah melakukan reformasi menuju kehidupan demokratis dari penghujung abad ke 20 lalu,harus berfikir bahwa semua institusi harus dapat mendukung untuk mewujudkan kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari – hari di lingkungan keluarga , sekolah , masyarakat , lembaga pemerintah, maupun non pemerintah.

Democratic Teaching adalah suatu bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui proses pembelajaran yang demokratis.Jadi pengertian Democratic Teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai – nilai demokrasi ,yaitu penghargaan terhadap kemampuan , menjunjung keadilan , menerapkan persamaan kesempatan dan memperhatikan keragaman siswa.Dalam prakteknya guru hendaknya memposisikan siswa sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya .Oleh karena itu proses pembelajaran perlu adanya suasana yang terbuka , akrab dan saling menghargai.Sebaliknya perlu menghindari suasana belajar yang kaku , penuh dengan ketegangan dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat siswa menjadi pasif , tidak bergairah ,cepat bosan dan mengalami kelelahan.

Dalam pembelajaran berbasis demokrasi, sistem pembelajaran ditekankan pada kegiatan yang melibatkan semua siswa dengan menekankan cara berfikir kreatif, kritis lam mengemukakan pendapat, ide maupun gagasan sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki dan beragam kecerdasan siswa yang meliputi kecerdasan verbal, matematik, ruang, kinestetik, musical, kecakapan intrapsikis.

Berbicara mengenai pembelajaran demokratis berarti yang harus terjadi adalah bagaimana pola-pola demokratis dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran demokratis adalah pembelajaran yang direncanakan dengan konsep yang memungkinkan praktik dari proses pembelajaran demokratis itu terlaksana, seperti memberikan kesempatan kepada siswa seluas-luasnya untuk belajar, berfikir, bekerja, dan membiarkan mereka bergerak membangun keilmuannya, sehingga siswa memiliki peluang yang besar untuk belajar memberanikan diri membuka wawasannya.

Dikemukakan oleh John.I.Goodlad dalam buku yang berjudul “Paradigma Pendidikan Demokratis” bahwa terpenuhinya misi pendidikan sangat tergantung pada kemampuan guru untuk menanamkan setting demokrasi pada siswa, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk belajar (Goodlad, 1996:113), yakni bahwa sekolah, menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk semaksimal mungkin mereka belajar.

Jadi dari situ kita bisa membuka paradigma berfikir kita bahwasanya seorang siswa belajar adalah untuk menambah khazanah keilmuan serta pengalaman belajar mereka, sehingga seorang guru dituntut benar-benar mampu mengembangkan strategi pembelajaran, agar tercapai tujuan dari proses pembelajaran.

Selain itu, suasana yang demokratis dalam kelas juga akan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih mewujudkan dan mengambangkan hak atau kemampuannya serta kewajibannya. Suasana yang demokratis dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran melalui hubungan antara guru dengan murid. Dan dalam suasana demokratis, itu juga semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan potensi dan prestasinya masing-masing, sehingga dapat memupuk rasa percaya diri dan dapat berkreasi sesuai dengan kemampuannya tersebut.

1.2.Pentingnya Democratic dalam pembelajaran

Dalam pembelajaran, siswa betul-betul sebagai subyek belajar, bukan sebagai botol kosong yang pasrah untuk diisi dengan berbagai ilmu oleh guru. Saat sekarang rasanya pembelajaran yang demokratis cukup mendesak untuk diimplementasikan di dalam kelas, setidaknya berdasarkan tiga alasan.

Pertama, kenyataan bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dalam era globalisasi informasi sekarang tidak bisa dipungkiri, akses terhadap berbagai sumber informasi menjadi begitu luas, televisi, radio, buku, koran, majalah, dan internet. Saat berada di kelas, siswa telah memiliki seperangkat pengalaman, pengetahuan, dan informasi semua ini sesuai dengan bahan pelajaran, bisa juga bertentangan. Pembelajaran yang demokratis memungkinkan terjadinya proses dialog yang berujung pada pencapaian tujuan instruksional yang ditetapkan. Tanpa demokrasi di kelas, guru akan menjadi penguasa tunggal yang tidak dapat diganggu gugat. Siswa terkekang, dan akhirnya potensi kreativitasnya terbunuh.

  Kedua, kompleksnya kehidupan yang dihadapi siswa setelah lulus. Masa depan menuntut mereka mampu menyesuaikan diri. Prinsip belajar yang relevan adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Artinya di kelas target pembelajaran bukan sekedar penguasaan materi, melainkan siswa harus belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran siswa telah dibiasakan untuk berfikir sendiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen.

Ketiga, dalam konteks pendidikan demokrasi masyarakat. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, siswa hendaknya sejak dini telah dibiasakan bersikap demokratis bebas berpendapat tetapi tetap dalam rule of game. Ini bisa dimulai di kelas dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang menekankan adanya demokrasi.

1.3 Kendala yang dihadapi (guru dan siswa) dalam pembelajaran.

Pembelajaran yang bersifat demokratis berdasarkan data diatas tampaknya cukup signifikan untuk diterapkan. Namun harus diakui ada beberapa kendala yang harus diatasi.

Dari pihak guru, kendala lebih bersifat psikologis. Bagaimanapun selama ini guru telah tercitrakan sebagai orang yang serba tahu dan serba mampu. Bahkan, ada ungkapan guru itu digugu dan ditiru. Ini menempatkan guru pada posisi superior diatas siswa.

Guru memang harus berwibawa baik secara akademik maupun moral, tetapi bukan berarti harus berlaku diktator dan otoriter. Harus ada perubahan paradigma, guru sekarang tidak harus serba tahu dan serba mampu karena hal itu memang mustahil, yang penting guru harus bisa menjadi fasilitator dan motivator sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk bisa mengubah paradigma ini, guru harus menyadari bahwa wibawa tidak akan lenyap dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas. Bukankah justru wibawa guru akan terangkat bila ia mampu menampilkan Performa sebagai guru yang egaliter, bisa diajak diskusi, terbuka dan demokratis.

Sementara di pihak siswa, kendalanya adalah belum adanya keberanian untuk berpendapat. Selama ini mereka telah terkondisi untuk pasif, menerima apapun informasi guru tanpa kritik. Kondisi ini harus diubah dengan cara mendorong mereka menampilkan gagasan dan menghargainya. Apapun pendapat siswa, guru harus bisa memberikan apresiasi secara positif. Melalui penghargaan dan apresiasi secara positif terhadap siswa, diharapkan berangsur-angsur siswa terbiasa berfikir aktif dan berani mengemukakan pendapatnya di kelas.

tubuhnya,  potongan tubuh itu akan tumbuh menjadi individu baru.

2. JOYFUL LEARNING

2.1 Pengertian Joyfull Learning.

Disini akan dijelaskan Joyfull Learning berasal dari kata joyfull yang berarti menyenangkan sedangkan learning adalah pemberlajaran. Dave Meier menyatakan bahwa belajar menyenangkan (joyfull learning)  adalah sistem pembelajaran yang berusaha untuk membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri siswa.

Menurut Paulo Fraire, Joyfull Learning adalah pembelajaran yang di dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik tekanan fisik maupun psikologis. Sebab, tekanan apa pun namanya hanya akan mengerdilkan pikiran siswa, sedangkan kebebasan apa pun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.

Menurut bambang yulianto: Joyfull Learning yaitu membuat kelas jadi menyenangkan, jangan monoton. Sedangkan menurut yanu armanto; Joyfull Learning yaitu pendekatan yang dapat membuat siswa memiliki motivasi untuk terus mencari tahu, untuk terus belajar.

Maka joyfull learning adalah pendekatan yang digunakan oleh pengajar dalam hal ini adalah guru untuk membuat siswa lebih dapat menerima materi yang disampaikan yang dikarenakan suasana yang menyenangkan dan tanpa ketegangan dalam menciptakan rasa senang. Penciptaan rasa senang berkait dengan kondisi jiwa bukanlah proses pembelajaran tersebut menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Dan menyenangkan atau mengasyikkan dalam belajar dikelas bukan berarti menciptakan suasana huru-hara dalam belajar di kelas namun kegembiraan disini berarti bangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) dan nilai yang membahagiakan siswa.  

Pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) bukan semata-mata pembelajaran yang mengharuskan anak-anak untuk tertawa terbahak-bahak, melainkan sebuah pembelajaran yang di dalamnya terdapat kohesi yang kuat antara guru dan murid dalam suasana yang sama sekali tidak ada tekanan. Yang ada hanyalah jalinan komunikasi yang saling mendukung.

 Belajar sendiripun menurut para ahli berbeda-beda dalam mengemukakan definisinya. Namun, tampaknya ada semacam kesepakatan diantara mereka yang menyatakan bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar. Perbuatan tersebut bersifat internasional, positif, aktif dan efektif fungsional.

Sifat internasional berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dan disadari, bukan kebetulan. Sifat positif berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar, disamping itu menghasilkan sesuatu yang ru yang lebih baik dibandingkan yang telah ada sebelumnya. Sifat aktif disini berarti perubahan yang membangun suasana yang mengembangjkan inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa sehingga berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya dan tidak tergantung pada guru. Sifat efektif berarti perubahan yang memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. Adapun sifat fungsional berarti perubahan itu relatif tetap serta dapat direproduksikan atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.

Seperti halnya ungkapan yang dipromosikan oleh Mihaly Csikszentmihalyi ”Syarat bagi pembelajaran yang efektif adalah dengan menghadirkan lingkungan seperti masa kanak-kanak”. (bukan ”kekanak-kanakkan”)  melainkan yang mendukung dan menggembirakan (”bermain”). Dan lebih lanjutnya Csikszentmihalyi katakan ”Selama beberapa tahun pertama kehidupan, setiap anak adalah ”mesin belajar” kecil yang tidak kenal lelah mencoba lagi gerakan-gerakan baru, kata-kata baru, setiap hari. Perhatikanlah dengan saksama, pusatkanlah pada wajah seorang anak tatkala belajar ketrampilan baru. Apa yang mereka perhatikan adalah indikasi dari ”rasa senang”-nya. Dan setiap pembelajaran yang menyenangkan menambah kompleksitas perkembangan diri anak tersebut.

2.2 Tujuan Pembelajaran Joyfull Learning.

Sebelum dikenakan pada tujuan pembelajaran joyfull learning  lebih dulu mengetahui tujuan pendidikan nasional sesuai undang-undang no.02 untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Siswa akan terdorong untuk terus belajar jika pembelajaran diselenggarakan secara nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa terlibat secara fisik dan psikis. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi pembelajran yang sesuai dengan minat dan kecerdasan siswa. Guru juga perlu memberikan penghargaan bagi siswa yang berpartisipasi. Penghargaan dapat bersifat material dan penghargaan, nilai, penghargaan applaus.

Sedangkan tujuan dari pembelajaran yang menyenangkan sendiri adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar dari pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka, dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai manusia.

Proses pembelajaran yang menyenangkan disini bisa dilakukan dengan: pertama dengan menata ruangan yang apik menarik yaitu dengan memenuhi unsur kesehatan, misalnya dengan pengaturan cahaya, ventilasi serta memenuhi unsur keindahan dengan dipasang karya siswa. Kedua melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber pembelajran yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.

Seperti yang telah dijelaskan pula dari quantum learning sendiri bahwa belajar itu haruslah mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terekan dengan baik.

Dengan adanya pembelajaran menyenangkan (joyfull learning) ini maka pesera didik tidak hanya dikurung di dalam ruang kelas belajar saja, tetapi juga belajar di luar ruangterbuka atau Auditorium dengan arena bermain edukatif. Menjadikan pelajaran yang selama ini abstrak menjadi konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

2.3 Penerapan Joyfull Learning

Joyfull Learning dapat dilakukan dengan memotivasi tumbuhnya harga diri yang positif kepada anak dan memberikan lingkungan dan kondisi yang tepat untuk semua anak. Dengan kata lain, semua anak merasakan bahwa:

1.     Kontribusi mereka sekecil apa pun dihargai;

2.     Mereka merasa aman (fisik dan psikis) dalam lingkungan belajar;

3.     Gagasan mereka dihargai

Dengan kata lain anak harus dihargai apa adanya. Mereka harus merasa aman, bisa mengekspresikan pendapatnya, dan sukses dalam belajarnya. Keramahan inilah yang membantu anak-anak menikmati belajar dan guru bisa memperkuat rasa senang ini melalui penciptaan kelas yang lebih “menyenangkan”.

Oleh karena itu guru diharapkan untuk tidak membatasi argumen siswa, karena dengan mendengarkan argumen siswa merasa lebih diperhatikan dan merasa nyaman berada di kelas. Selain itu penataan kelas juga bisa membuat siswa merasa nyaman dan senang berada di dalam kelas.

2.4. Teknik model belajar Joyfull Learning di sekolah:

Teknik joyfull learning yang diterapkan dalam sekolah dapat dipilih kedalam empat bagian, pertama teknik persiapan, kedua teknik penyampaian, ketiga teknik pelatihan, keempat teknik penutup. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

a.   Teknik persiapan

Tahap persiapan berkaitan dengan persiapan siswa untuk belajar. Tanpa itu siswa akan lambat dan bahkan bisa berhenti begitu saja. Tujuan dari persiapan pembelajaran adalah untuk:

  1. Mengajak siswa keluar dari keadaan mental yang pasif.
  2. Menyingkirkan rintangan belajar.
  3. Merangsang minat dan rasa ingin tahu siswa.
  4. Memberi siswa perasaan positif mengenai, dan hubungan yang bermakna dengan topik pelajaran.
  5.  Menjadikan siswa aktif yang tergugah untuk berpikir, belajar, menciptakan, dan tumbuh.
  6. Mengajak orang keluat dari keterasingan dan masuk kedalam komunitas belajar.

Dengan hal tersebut akan berdampak secara psikis kepercayaan diri untuk bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan yang ia inginkan.

Adapun komponen persiapan pembelajaran antara lain

1. Sugesti positif

            Guru harus peka terhadap sugesti negatif yang mungkin akan siswa masukkan ke dalam lingkungan belajar dan menggantikannya dengan sugesti positif. Perasaan takut, terlalu banyak materi, serta perasaan bosan dan lain sebagainya itu merupakan sugesti negatif, dengan adanya sugesti negatif ini maka guru harus mampu mengubahnya menjadi sugesti yang positif dengan meyakinkan siswa bahwa mereka akan mampu dan bisa serta siap menghadapinya dengan rasa gembira. Selain itu guru harus mampu membuat pembelajaran tergugah, terbuka, dan siap untuk belajar.

2. Lingkungan  fisik positif.

Sugesti, baik positif maupun negatif akan sangat dipengaruhi juga lingkungan. Apabila lingkungan dibuat terkesan menyenangkan dengan sendirinya siswa akan tersugesti untuk belajar dengan menyenangkan. Sebaiknya guru memahami kaitan antarapandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrasikan lingkungan belajar yang mendukung. Untuk itu persiapan pembelajaran sebaiknya ditata sedemikian rupa agar dalam kelas bisa mengasyikkan dalam belajar. Misalnya dengan memasang poster afirmasi pada dinding dengan kata ” Saya mampu mempelajarinya” dengan menggunakan warna yang menarik, menggunakan alat bantu benda yang dapat mewakili suatu gagasan, mengatur bangku (seperti membentuk bangku setengah lingkaran, bangku berhadap-hadapan).

3. Tujuan yang jelas dan bermakna.

                  Pembelajaran memerlikan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu pembelajaran dan apa yang akan dapat mereks lakukan  sebagai hasilnya. Guru dapat menjelaskan tujuan materi dengan kata-kata, gambar, contoh, demo, atau apa saja yang membuat tujuan itu tampak nyata dan konkrit bagi siswa. Dan akan sangat bermanfaat apabila disampaikan dengan bahasa yang menyentuh hati dan pikiran siswa.

4. Manfaat bagi siswa.

            Ada yang menghubungkan antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan ”apa”, sedangkan manfaat dikaitkan dengan ”mengapa”. Siswa dapat belajar paling baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka sendiri.

 5. Sarana persiapan siswa sebelum pembelajaran.

                  Persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum dimulainya program belajar. Jika dapat diusahakan, pembelajaran diberi sarana persiapan sebelum belajar yang diisi aneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap untuk belajar. Sarana itudapat membantu menyingkirkan rasa takut, menentukan tujuan, menjelaskan manfaat, meningkatkan rasa ingin tahu danminat, serta menciptakan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang.

 6. Lingkungan sosial yang positif.

                  Kerja sama membantu siswa mengurangi stres dan lebih banyak memanfaatkan energi kejiwaan untuk belajar (dan bukunya untuk bersaing atau melindungi diri). Kerja sama antara siswa untuk menciptakan sinergi manusiawi yang memungkinkan berbagai wawasan, gagasan dan informasi mengalir bebas.          

            Selain itu dengan kerja sama dalam belajar akan memungkinkan setiap siswa tidak akan terabaikan, sulit pula bagi siswa untuk sembunyi dan tidak aktif. Oleh sebab itu sebaiknya sebelum pelajaran melangkah lebih lanjut dibuat kelompok sebagai mitra belajar. Cara yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan kegiatan belajar adalah dengan membagi kelas menjadi pasangan dan membentuk kemitraan belajar.

7. Keterlibatan penuh pembelajaran

Belajar bukanlah aktivitas yang hanya bisa ditonton, melainkan sangat membutuhkan peran serta semua pihak. Belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif, melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan ketrampilan. Upaya belajar benar-benar bergantung pada siswa dan bukan merupakan tanggung jawab perencana atau guru. Guru hanya sebagai fasilitator yang berkewajiban menata meja dengan makanan yang merangsang selera dan bergizi, sedangkan kewajiban siswa untuk memakannya sendiri. Maka siswa diupayakan agar mampu berkreasi dan mandiri.

8. Rangsangan rasa ingin tahu.

                  Merangsang rasa ingin tahu siswa sangat membuat upaya mendorong siswa agar terbuka dan siap belajar. Pembelajaran (dan kehidupan itu sendiri) akan mandek jika tidak ada sesuatu yang bisa menimbulkan rasa ingin tahu. Guru dapat menggugah rasa ingin tahu siswa adalah dengan cara: memberi masalah untuk dipecahkan secara kelompok, menyuruh siswa berpasang-pasangan dalam menjalankan tugas pencarian fakta, memainkan permainan tanya jawab,menyuruh siswa menyusun pertanyaan.

b. Teknik Penyampaikan

                  Tahap penyampaikan dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan pembelajran dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik. Adapun cara mengajak siswa terlibat penuh dalam proses belajar:

      1. Presentasi guru (fasilitator)

                        Ketika sedang mengerjakan suatu proses atau prosedur, gunakan hasil karya untuk menampilkannya besar-besar pada dinding, papan planel, atau papan tulis magnetik. Selanjutnya, suruhlah siswa membongkarnya dan menyusunnya kembali sebagai aktivitas belajar ”mengajar-kembali”

      2. Presentasi guru/ siswa

Sebelum presentasi, mintalah setiap siswa memilih mitra. Katakan bahwa mereka harus menyusun soal ujian lisan berisi 20 pertanyaan untuk teman mereka berdasarkan presentasi yang akan mereka dengar. Pada akhir presentasi, mereka harus menyerahkan soal ujian lisan tersebut pada teman mitranya dan menilai apakah pasangan mereka mampu atau tidak menangkap materi pelajaran yangbaru saja diberikan. Semenara itu, saat presentasi, mitra mereka akan menyiapkan soal ujian lisan 20 pertanyaan untuk mereka.

3. Presentasi siswa dan berlatih menemukan

               Guru membagi siswa dalam beberapa tim. Minta setiap tim meneliti berkas bahan pelajaran yang mereka hadapi dan buatlah presentasi untuk kelompok. Bekali setiap tim dengan materi untuk membuat pendukung atau bantuan presentasi yang dapat membantu mereka menyampaikan poin-poin mereka. Karena siswa lebih banyak mengingat dengan diasosiasikan dengan sesuatu yang telah atau pernah dilakukan. Seperti yang dikatakan oleh Harry Lorayne dan jerry lucas yaitu ” anda bisa mengingat sepotong informasi jika diasosiasikan dengan sesuatu yang telah anda ketahui atau ingat sebelumnya”

c. Teknik Pelatihan

                     Pada tahap inilah pembelajaran yang berlangsung sebenarnya. Apa yang dipikirkan, dan dikatakan serta dilakukan siswalah yang menciptakan pembelajran, dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh guru. Pada tahap ini dapat dilakukan dengan meminta siswa berulang-ulang mempraktikkan suatu ketrampilan (andaipun  tidak berhasil pada mulanya), mendapatkan umpan balik segera, dan mempraktikkan ketrampilan itu lagi. Mintalah siswa membicarakan apa yang mereka alami, perasaan mereka mengenainya, dan apa lagi yang mereka butuhkan untuk meningkatkan prestasinya.

d. Teknik Penutup.

                     Banyak kasus dalam menyampaikan pelajaran dalam akhir semester atau dalam akhir jam guru menjelaskan agar materinya selesai. Namun dengan ini, malah akan tidak efektif yang seharusnya dilakukan adalah pada pemahaman guru dalam joyfull learning hendaknya memberi penguatan kepada materi yang telah diterima oleh siswa dengan memusatkan perhatian, hal itu peluang ada cara mengingat yang kuat akan apa yang terjadi. Seperti yang telah dikatakan oleh Lynn Stern, penulis improving your memory ” alasan utama mengapa kita lupa adalah karena kita tidak benar-benar memusatkan perhatian”

                     Ada banyak tindakan positif yang bisa diambil untuk menciptakan penutup mata pelajaran yang bermakna dan membuat pembelajaran tidak terlupakan dengan cara antara lain:

  1. Strategi peninjauan kembali yaitu membahas cara–cara untuk membuat siswa mengingat apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan dan kemampuan mereka yang sekarang. Yaitu guru bisa dengan menggunakan kartu indeks yang terpisah, menuliskan pertanyaan tentang materi yang diajarkan kartu berisikan pertanyaan dengan jumlah separuh dari jumlah siswa, dari kartu yang terpisah siswa menuliskan jawaban atas masing-masing pertanyaan. Guru mencampurkan dua kumpulan kartu dan mengaduk agar acak. Berikan satu kartu untuk satu siswa, sebagian jumlah siswa menerima kartu pertanyaan sebagian yang lain menerima jawaban. Guru memerintahkan siswa untuk mencari pasangannya atau siswa yang membawa kartu jawaban pertanyaannya. Bila telah bertemu salah satu siswa diminta untuk membacanya keras-keras untuk melihat kebenaran dan kecocokkan jawaban dan pertanyaannya.
  2. Penilaian sendiri yaitu membahas cara-cara untuk membantu siswa untuk menilai sendiri apa yang telah mereka peroleh.

Pada awal sebuah mata pelajaran, perintahkan siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang topik pelajaran, pada akhir mata pelajaran perintahkan siswa untuk kembali mengemukakan pendapatnnya. Lalu tanyakan kepada siswa apakah pandangan mereka masih sama ataukah sudah berbeda antara pendangan pada awal pelajaran dan akhir pelajaran.

  1. Perencanaan masa depan.

            Guru mengungkapkan harapannya agar siswa tidak berhenti belajar hanya karena pelajaran telah berakhir. Kemukakan kepada siswa bahwa ada banyak car bagi mereka untuk terus belajar secara mandiri. Tunjukkan bahwa slah satu cara dengan membuat daftar berisi gagasan mereka. Buatlah sub-sub kelompok, perintahkan tiap sub untuk mencetuskan gagasan mereka.

  1. Ucapan perpisahan

            Beri siswa kertas kosong dan katakan pada mereka inilah saatnya ”ujian akhir”,  katakan pada siswa bahwa tugas mereka adalah menulis secara urut banyaknya aktifitas belajar yang telah ditempuh, lalu perintahkan siswa untuk mengenang masa belajar yang mereka rasakan selama ini.

2.5. Cara atau teknik menjadikan pembelajaran menyenangkan dan berhasil

                  Dalam proses pembelajaran guru pasti punya tujuan yang mana guru menginginkan tujuan dari pembelajaran itu bisa tercapai dengan keadaan siswa yang senang dan menyenangkan. Adapun caranya antara lain:

a)      Menciptakan lingkungan tanpa stres (relaks)- lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan, namun harapan untuk sukses tinggi.

b)      Menjamin bahwa subjek pelajaran adalah relevan- penjelasan guru sesuai dengan kenyataan yang sekiranya siswa pernah melihat atau mengalaminya, sehingga tidak terlalu jauh antara pelajaran dengan bayangan siswa.

c)      Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif- karena pada umumnya ketika belajar dilakukan bersama guru, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu jeda teratur, dan dukungan antiusias.

d)     Melibatkan secara sadar semua indra dan juga pikiran otak kiri dan otak  kanan. Karena jika indra bergerak tidak bersamaan dengan kerja otak (melamun) maka pembelajaran tidak bisa efektif.

e)      Menantang otak siswa untuk dapat berfikir jauh kedepan dan mengeksplorasi apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami subjek pelajaran.

f)       Mengonsolidasikan bahan yang sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode waspada yang relaks.

 2.6.  Media yang baik digunakan dalam Joyfull Learning

Media adalah salah satu factor yang penting dalam proses pembelajaran. Motivasi untuk belajar akan meningkat jika kondisi proses pembelajaran itu menyenangkan, efektif dan lebih hidup. Jadi, media yang bagus diperlukan dip roses pembelajaran tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam.  Finnuchiaro mengatakan bahwa: ”Varios media such as the picture file, the pocket card, flash cards or words cards, the flannel board or magnetic board, real object, andmany miscellanous material yaitu: Ada banyak media seperti gambar-gambar, kartu cepat atau kartu kata, papan magnet, obyek nyata dan banyak macam-macam materi.

  1. Gambar

      Ada banyak macam gambar yang dapat digunakan di dalam kelas paling sedikit guru harus mempunyai data yang terdiri dari 3 macam gambar.

  1. Gambar individu manusia dan obyek.
  2. Gambar situasi dimana orang melakukan sesuatu dengan obyek dan hubungan obyek dan manusia yang dapat dilihat.
  3. Gambar seri 6-10 dalam 1 bagian.

Dengan menggunakan gambar proses pembelajaran dapat menarik dan efektif jadi karakteristik seperti konsentrasi yang pendek dapat diakali dengan menggunakan gambar, dan lebih meningkatkan motivasi murid dalam belajar.

  1. Kartu cepat atau kartu kata.

         Kartu cepat dapat digunakan pada kelas pelajaran yang masih muda. Kartu-kartu ini dapat disiapkan dan diisi dalam kategori yang sama dan perintah yang sama sbagai gambar individu.

         Anak-anak yang lebih muda dapat disuruh untuk mencocokkan kartu dan gambar secepat yang mereka baca. Mereka juga dapat mencocokkan kartu dan kata yang tertulis dipapan tulis atau dipapan kartu yang besar. Media ini sangat berguna dalam aktifitas bahasa seperti game. Dengan menggunakan media flash card di dalam game karakteristik dapat dimotivasi melalui aktivitas ini.

  1. Papan Flanel (magnet)

            Papan Flanel dapat digunakan sama seperti papan magnet. Papan flannel adalah papan yang dibuat dari kayu yang permukaannya dilapisi dengan flannel fabric untuk menempelkan benda-benda, gambar, kertas dan lain sebagainya. Panjangnya sekitar 1 meter dan lebarnya 70 cm. alat ini dibuat untuk mempraktekkan kosa kata dan ayat-ayat al-quran. Sehingga gambar dan kertas mudah untuk ditarik dan ditempel sebagai ilustrasi dan pengajaran dari banyak konsep dan struktur.

  1. Kaset.

Pemutar kaset (CD Player / tape)adalah media yang cocok untuk cerita, lagu, dan permainan, dan sebagainya. Ini adalah bentuk pertama. Suara dari pembicara asli terdengar sempurna untuk membangun pengucapan siswa atau dapat juga untuk memahami bentuk cerita atau kisah para Nabi.ucapan yang terdengar juga memberikan pengalaman dari bentuk eksperimen yang digunakan didalam pengucapan atau kefasihannya. Jadi karakteristik seperti meniru memudahkan dengan menggunakan ucapan yang asli.

            Media ini digunakan dalam pelajaran dikelas untuk membiasakan siswa pada suara lain dari pada guru mereka untuk menambah latihan konsentrasi.

  1. Obyek nyata

            Obyek nyata adalah media lain. Mereka dapat diletakkan di kotak yang sangat luas. Media ini akan membantu untuk mengilustrasikan kosa kata atau konsep cultural. Seperti Koran, bendera, peta, botol, kotak, dan benda benda lain adalah ilustrasi kosa kata yang pokok. Benda-benda ini digunakan oleh guru untuk siswa senang.

 

KONSEP KAMA DALAM RAMAYANA DAN MAHABARATHA

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Mahabharata dan Ramayana merupakan dua epos besar yang menceritakan kisah kehidupan raja-raja Hindu di masa lampau. Cerita ini adalah sejarah yang senngguh-sungguh terjadi bagi umat Hindu baik di Bali maupun di India. Dalam cerita Mahabharata dan Ramayana di dalamnya terdapat banyak ajaran agama. Salah satunya adalah ajaran Kama atau hawa nafsu atau keinginan. Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengungkap dan mendalami ajaran-ajaran yang terkandung dalam epos Mahabharata dan Ramayana ini sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia.

Kama sangat erat kaitannya dengan wanita. Ini dinyatakan karena Kama disini berarti hawa nafsu. Hawa nafsu sering ditujukan antara pria dan wanita.

Di dalam hidup ini, nafsu atau keinginan itu sangat penting. Karena tanpa nafsu atau tanpa keinginan, tidak akan ada sesuatu yang dapat dikerjakan, tidak ada sesuatu kreativitas dan itu juga berarti bahwa identitas manusia akan lenyap.

Dalam cerita Mahabharata dan Ramayana banyak sifat-sifat Kama yang tak terkendali yang  ditunjukkan oleh para tokoh ceritanya. Untuk lebih mengetahui tentang bagaimana ajaran Kama di dalam cerita Mahabharata dan Ramayana akan dibahas lebih lanjut didalam pembahasan.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah pengertian dari Kama?
  2. Bagaimanakah konsep Kama dalam cerita Mahabharata dan Ramayana?
  3. Yang mana bagian dari Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan sifat Kama?

1.3  Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan tujuan sebagai berkut:

  1. Untuk mengetahui pengertian dari Kama.
  2. Untuk mengetahui konsep Kama dalam cerita Mahabharata dan Ramayana.
  3. Untuk mengetahui bagian dari  Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan sifat Kama.

1.4  Manfaat Penulisan

Hasil dari pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan umat Hindu khususnya mahasiswa STKIP Agama Hindu Singaraja tentang konsep Kama dalam kisah Mahabharata dan Ramayana. Disamping itu pula, penulis mengharapkan kita sebagai umat Hindu dapat bercermin dari kisah Mahabharata dan Ramayana untuk dapat mengendalikan hawa nafsu dalam diri kita.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Kama

Kama merupakan salah satu bagian dari Catur Purusa Artha. Catur Purusa Artha adalah empat tujuan hidup manusia. Salah satu tujuan hidup manusia yaitu memenuhi keinginan atau nafsu. Sesuai dengan pengertiannya, Kama merupakan hawa nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Objek dari pada kama ini adalah artha yaitu benda-benda duniawi yang dapat memuaskan kama sehingga menjadikan orang nikmat merasakan hidup ini. Tetapi dalam memenuhi tuntutan kama pada artha akan dapat membawa orang pada jurang kesengsaraan apabila tidak atas dasar dharma yaitu kebajikan, kebenaran, peraturan-peraturan yang mendukung orang untuk mendapatkan kebahagiaan. Maka dharma harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntutan kama atas artha.

Dalam sloka 12 kitab sarasamuscaya disebutkan bahwa pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka dharma hendaknya dilakukan lebih dulu. Tak dapat disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama ini nanti. Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia, karena manusia memiliki sepuluh indria yang disebut Dasendria, yaitu:

  1. Srotendriya, yaitu keinginan untuk mendengar
  2. Tvagendriya, yaitu keinginan untuk merasakan sentuhan
  3. Caksvindriya, yaitu keinginan untuk melihat
  4. Jihvendriya, yaitu keinginan untuk mengecap
  5. Ghranendriya, yaitu keinginan untuk mencium
  6. Wangindriya, yaitu keinginan untuk berkata
  7. Panindriya, yaitu keinginan untuk memegang sesuatu
  8. Padendriya, yaitu keinginan untuk bergerak atau berjalan
  9. Payviindriya, yaitu keinginan untuk membuang kotoran
  10. Upasthendriya, yaitu keinginan untuk kenikmatan dengan kelamin

Kesepuluh indriya tersebutlah yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu, karena itu indriya tersebut sangat penting. Perasaan ingin tahu, yang senantiasa menyebabkan manusia memiliki pengetahuan adalah diakibatkan oleh adanya indriya itu juga. Namun indriya itu perlu dikendalikan, karena sering juga dapat menjerumuskan manusia. Kama sering diumpamakan seperti kuda liar yang kalau dapat dikendalikan akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Dalam hubungannya antara keempat bagian dari Catur Purusa Artha ini, Kama atau kesenangan/ kenikmatan menurut ajaran agama tidak akan ada jika diperoleh menyimpang dari Dharma. Oleh karena itu, Dharma menduduki tempat diatas dari Kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaian Kama.

2.2 Konsep Kama dalam cerita Mahabharata dan Ramayana

Kama yang diumpamakan sebagai angin. Tanpa angin yang cukup, perahu tidak akan bisa meluncur maju. Tapi kebanyakan angin topan juga akan menyebabkan perahu terdampar dan menyimpang dari tujuan. Demikian halnya dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Dalam cerita Mahabharata, diceritakan tentang Korawa yang selalu mengumbar nafsu atau keinginannya yang tidak terkendali menghalalkan segala cara, dengan memanfaatkan ayahanda Drestarasta untuk memperdaya Pandawa lewat meja judi yang mana semua itu adalah bentuk nafsu atau Kama dari Korawa yang tak terkendali. Selain itu, Duryodhana (korawa) juga ingin membunuh Pandawa dengan membakar istana kardus.

Begitu pula dalam cerita Ramayana, dimana raja Rahwana dikuasai oleh nafsu atau keinginan jahatnya dengan menculik Sitha, istri sang Rama didalam hutan yang akhirnya membawa kehancuran bagi Rahwana sendiri termasuk juga keluarga dan rakyatnya. Itulah sesungguhnya Kama bila tidak didasari oleh ajaran agama atau dharma (kebenaran) pasti akan membawa kehancuran bagi yanng melaksanakannya.

Sebagai seorang raja seharusnya mampu mencapai Kama melalui pelaksanaan Dharma terhadap orang suci dan rakyatnya. Dalam kekawin Ramayana disebutkan bagaimanakah hendaknya seorang raja dalam pencapaian Kama, sebagai berikut:

Dewakusalasala mwang dharma, ya pahayun mas ya ta pahawreddhin byaya ring hayu kekesan bhukti sakaharepta dwehi ng bala kasukhan dharma mwang artha mwang kama ta ngaran ika.

Artinnya:

            Tempat-temmpat suci hendaknya dipelihara, kumpulkanlah emas yang banyak serta diabdikan untuk pekerjaan yang baik, nikmati kesenangan dengan memberi kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu, itulah yang disebut dharma, artha, dan kama.

            Dalam bait kekewin Ramayana diatas telah dinyatakan bahwa kenikmatan (Kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan kepada orang lain untuk merasakan kenikmatan. Jadi, pekerjaan yang bersifat inin menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh harta dan kenikmatan tidak dilaksanakan.

2.3 Bagian dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan Kama.

2.3.1  Mahabharata

Dalam kisah Mahabharata yang menceritakan tentang keluarga Bharata khususnya, masing-masing tokoh didalamnya banyak sekali yang tidak mampu mengendalikan Kama atau hawa nafsu mereka, yang ujung-ujungnya menimbulkan masalah besar. Namun, dari hal itulah kita sebagai umat manusia diajarkan bagaimana kita harus mengendalikan Kama atau hawa nafsu agar tidak menimbulkan kehancuran bagi diri sendiri. Berikut ini adalah beberapa bagian dari kisah Mahabharata yang mencerminkan Kama yang tak terkendali, yaitu:

  1. Pertemuan Santanu dan dewi Gangga (Adi Parwa)

Ini adalah bagian pertama dari kisah Mahabharata pada bagian Adi Parwa. Disini diceritakan pertemuan antara raja Santanu, raja yang agung dari Hastinapura, dengan dewi Gangga. Sejak pertama kali melihat, raja Santanu telah jatuh cinta kepada dewi Gangga. Raja Santanu meminta dewi Gangga untuk menikah dengannya. Namun, Gangga memberikan syarat kepada santanu, bahwa Ia tidak boleh melarang Gangga melakukan apapun dan dalam keadaan apapun. Karena diliputi oleh keinginan yang sangat kuat  untuk memiliki dewi Gangga, Tanpa berpikir panjang Santanu mengiyakan syarat itu. Santanu tidak pernah memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Gangga.

Hari demi hari berlalu, dewi Gangga melahirkan putra pertamanya. Namun apa yang Ia lakukan? Gangga menenggelamkan putranya ke dalam sungai. Dan beggitu seterusnya sampai tujuh kali. Disanalah Santanu mengalami sakit hati yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Dari bagian cerita itu kita dapat memetik suatu hal yang sangat penting, bahwa dalam menngambil keputusan kita harus memikirkan baik buruknya. Kita tidak boleh terlalu mengutamakan keinginan untuk memiliki sesuatu.

  1. Kematian Pandu (Adi Parwa)

Pandu adalah ayah dari panca Pandawa. Karena keinginannya untuk menyentuh istrinya yang cantik jelita, akhirnya Ia mati. Ini dikisahkan di tengah hutan, raja Pandu melihat dan memanah sepasang rusa penjelmaan dari seorang Rsi dan istrinya yang sedang memadu cinta. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Rsi itu mengutuk raja Pandu. Kapanpun ketika Pandu dimabuk cinta dan ingin menyentuh tubuh istrinya, saat itulah Pandu akan mati seperti Ia lakukan terhadap rusa itu. Kemudian Pandu dan kedua istrinya Kunti dan Madri, mengasingkan diri ke hutan. Disanalah kemudian lahir panca Pandawa.

Suatu hari dimusim semi, di taman hutan Satasrga, raja Pandu melihat istrinya (Madri). Ia adalah wanita yang sangat cantik. Siluet tubuhnya membangkitkan hawa nafsu suaminya yang telah lama tertahan. Karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsu atau Kama dalam dirinya, akhirnya raja Pandu menemui kehancurannya. Ketika Ia memeluk istrinya, Ia langsung mati.

Dari cerita itu kita diajarkan bagaimana kita harus menghormati orang lain dan harus mampu mengendalikan sifat Kama dalam diri kita. Dalam Asta Dasa Parwa, itu diceritakan pada bagian Adi Parwa.

            Selain dua contoh diatas, masih ada banyak tokoh yang menujukkan Kama yang tak terkendali. Misalnya Duryodhana. Duryodhana adalah saudara  tertua dari seratus Korawa. Ia memiliki sifat irihati, dengki, sombong, dan serakah. Duryodhana tidak pernah menghargai dan menghormati nasehat orang yang lebih bijaksana. Karena keinginannya untuk merebut tahta kerajaan Hastinapura dari tangan Pandawa, Ia menghalalkan segala cara untuk merebut dan membunuh panca Pandawa.

            Keinginan Duryodhana tidak pernah dilandasi dengan dharma. Seperti yang telah dijelaskan dalam pengertian Kama, bahwa apabila Kama tidak dilandasi dengan pelaksanaan dharma, maka akan membawa kehancuran bagi diri sendiri. Itulah yang akhirnya dialami oleh korawa, dan Duryodhana Khususnya.

            2.3.2 Ramayana

            Ramayana adalah sebuah epos yang menceritakan riwayat perjalanan Rama atau sering dikenal dengan gelar Ramadewa. Rama sebagai tokoh utama dalam epos itu adalah penjelmaan dewa Wisnu yang di dalam kitab Purana disebut sebagai salah satu avatara dari sepuluh avatara wisnu. Kitab Ramayana merupakan hasil karya terbesar dari maharsi Walmiki.

            Dalam cerita Ramayana diceritakan Rahwana, raja Alengka, yang menculik istri Rama ditengah hutan. Rahwana memiliki sifat yang angkuh, dan sombong. Dan selalu mengghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Dalam hidupnya, Rahwana tidak pernah melaksanakan dharma. Dirinya selalu diliputi oleh Kama buruk. Berikut ini adalah bagian dari kisah Ramayana yang menunjukkan Kama atau keinginan-keinginan yang menyimpang dari dharma, yaitu:

  1. Aranyaka Kanda

Dalam bagian aranyaka kanda diceritakan bertemunya Rama dengan Surpanaka (adik perempuan Rahwana) ditengah hutan. Dimana Surpanaka yang merupakan seorang raksasa yang merubah dirinya menjadi gadis cantik untuk mendekati Laksamana. Ia jatuh cinta pada Laksamana. Laksamana tahu bahwa gadis itu adalah raksasa, kemudian laksamana marah dan langsung memotong telinga dan hidung Surpanaka.Surpanaka tidak terima dengan perlakuan Laksmana dan melapokan itu pada Rahwana.

Rahwana kehutan untuk membalaskan dendam adiknya. Disana Ia melihat Sitha yang sangat cantik. Rahwana jatuh cinta pada Sitha. Untuk mendapakan perhatian Sitha, rahwana menyamar sebagai Brahmana yang kelaparan. Kemudian rahwana membawa lari sitha dari Rama ke Alengka pura. Dari perbuatan rahwana itu menimbulkan kemarahan dan terjadi peperangan antara Rama dan Rahwana. Yang pada akhirnya Rahwana yang merupakan tokoh adharma mengalami kehancuran pada dirinya sendiri dan rakyatnya.

Dari bagian cerita diatas, kita dapat petik nilai bahwa kita tidak boleh menginginkan, apalagi sampai merebut istri orang lain seperti yang dilakukan oleh Rahwana.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan penulis diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kama merupakan salah satu bagian dari Catur Purusa Artha. Kama merupakan hawa nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup.
  2. Konsep Kama dalam cerita Mahabharata yaitu, Korawa yang selalu mengumbar nafsu atau keinginannya yang tidak terkendali menghalalkan segala cara, dengan memanfaatkan ayahanda Drestarasta untuk memperdaya Pandawa lewat meja judi yang mana semua itu adalah bentuk nafsu atau Kama dari Korawa yang tak terkendali.

Begitu pula dalam cerita Ramayana, dimana raja Rahwana dikuasai oleh nafsu atau keinginan jahatnya dengan menculik Sitha, istri sang Rama didalam hutan yang akhirnya membawa kehancuran bagi Rahwana sendiri termasuk juga keluarga dan rakyatnya. Itulah sesungguhnya Kama bila tidak didasari oleh ajaran agama atau dharma (kebenaran) pasti akan membawa kehancuran bagi yang melaksanakannya.

  1. Bagian dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang mencerminkan Kama yaitu:
    1. Bagian yang mencerminkan Kama tak terkendali dalam kiisah mahabharata yaitu pada bagian pertemuan raja Santanu dan dewi Gangga dan pada saat kematian raja Pandu. Ini diceritakan pada bagian Adi Parwa.
    2. Bagian yang mencerminkan Kama tak terkendali dalam kisah Ramayana yaitu pada bagian Rahwana yang jatuh cinta kepada Sitha dan menculik Sitha di tengah hutan.

3.2    Saran

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diaatas, maka penulis dapat mengajukan saran bahwa sebagai umat hindu kita harus mampu memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam epos Mahabharata dan Ramayana sebagai cerminan dalam kehidupan di dunia ini. Selebihnya lagi bagaimana kita harus mampu mengendalikan unsur kama atau hawa nafsu yang ada dalam diri manusia agar tidak menjadi penghancur kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Awanita, Made dkk. 1994. Sila dan Etika Hindu. Universitas Terbuka.

Bantas, I Ketut dan Djelantik, Gde Ketut. Sarasamuscaya. Universitas Terbuka.

http://wikipedia.com

Makalah Pragmatic Bahas Bali

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Bahasi adalah alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Manusia dapat juga menggunakan alat lain untuk berkomunikasi, tetapi tampaknya bahasi merupakan alat komunikasi yang paling baik diantara alat-alat komuikasai lainnya. Apalagi bila dibandingkan dengan alat komunikasi yang digunakan mahluk sosial lain, yakni hewan. Dalam setiap komunikasi manusia  menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Maka, dalam setiap proses komunikasi ini terjadilah apa yang disebut peristiwa tutur atau peristiwa bahasi dan tindak tutur atau perilaku bahasi. Dalam kedua peristiwa inilah terjadi  lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Berdasarkan masalah diatas, maka yang menjadi fokus dalam  makalah  ini adalah: Upaya Tindak Tutur yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Makalah  ini bertujuan untuk menemukan  hal-hal  dalam  tindak tutur yang terjadi di masyarakat. Diharapkan hal ini akan bermanfaat dalam komunikasi dengan lawan tutur dalam kehidupan kita.

           

1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut:

  1. Apa yang dimaksud Tindak Tutur dan Bagaimana Penjelasanya?
  2. Apa yang dimaksud dengan Tindak Tutur Lokusi?
  3. Apa yang dimaksud dengan Tindak Tutur Ilokusi?
  4. Apa yang dimaksud dengan Tindak Tutur Perlokusi?

 

1.3. Tujuan Penulisan 

Adapun tujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Mahasiswa mampu mendefinisikan tentang Tindak Tutur!
  2. 2.      Mahasiswa mampu mendefinisikan tentang Tindak Tutur Lokusi
  3. 3.      Mahasiswa mampu mendefinisikan tentang Tindak Tutur Ilokusi
  4. 4.      Mahasiswa mampu mendefinisikan tentang Tindak Tutur Perlokusi

 

 

1.4. Manfaat Penulisan

            Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah bagi saya dan pembaca(Mahasiswa) dapat memperoleh pengetahuan tentang Tintak tutur baik tindak tutur Lokusi,Ilokusi dan Perlokusi

 

1.5.Metode Penulisan

            Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kajian pustaka, yaitu penulis mengumpulkan berbagai sumber atau refrensi yang relevan dengan materi yang disajikan dan kemudian dilakukan pengkajian terhadap  materi tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASIN

 

2.1 Pengertian Tindak Tutur

Menurut seorang ahli linguistic terkenal hymes(1972) bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan kompenen tutur yang diakronimkan menjadi SPEAKING. Yaitu terdiri dari seting and scene, participant, ends, act sequences, key, instrumentalities, norm of internasional and interpretation, and genres. Keseluruhan itu merupakan kompenen tutur  dalam sebuuah peristiwa berbahasi yang disebut peristiwa tutur (speech event). Pada dasarnya, peristiwa tutur merupakan rangkaian dari sejumlah yang terorganisasikan untuk mencapai suatu ujaran.

Jika peristiwa tutur  merupakan gejala social yang menyangkut adanya pihak-pihak yang bertutur dalam situasi dan tempat tertentu, tindak tutur cenderung sebagai gejala individu yang bersifat phisikologis  dan ditentukan oleh kemampuan bahasi penutur dalam menghadapi peristiwa tertentu. Peristiwa tutur lebih menitik beratkan pada tujuan peristiwa, sedangkan tindak tutur menitik beratkan pada  makna atau tindak dalam suatu tutur. Peristiwa tutur adalah peristiwa penting dalam suatu komunikasi.

Searle mengemukakan,  bahwa dalam semua interaksi lingual terdapat tindak tutur. Interaksi lingual bukan hanya lambing, kata atau kelimat, melainkan lebih tepat bila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau kalimatb yang berwujud perilaku tindak tutur.secara ringkas dapat dikatakan bahwa tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dari kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari interaksi lingual. Secara sedeerhana dapat dikatakan, bahwa tindak tutut adalah sepenggal tuturan yang dihasilkan sebagai bagian terkecil dalam suatu interaksi lingual. Tindak tutur dapat berupa pernyataan, pertanyaan , dan perintah.

Menurut Muhammad Rohmadi, (2004) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin (1956), seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O.Urmson (1965) dengan judul How to do Things with words?. Akan tetapi teori itu baru berkembang secara mantap setelah Searle (1969) menerbitkan buku yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language menurut Searle dalam semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tu­tur (fire performance of speech acts.
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasi yang mengkaji bahasi dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.

Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur. berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai tindak lokusi, ilokusi dan perlokusi.

2.2 Pengertian Tindak Tutur Lokusi

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Sebagai contoh tindak lokusi adalah kalimat berikut:

(1)   I Komang Malajah Makidung

(2)   Meme meli sate di peken

(3)   Bali Kaloktah kaasriannyane nyantos ring dura Negara

            Keempat kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diindentifikasi, karena dalam pengidentifikasian tindak lokusi tidak memperhitungkan konteks tuturannya.

 

 

 

2.3 Pengertian Tindak Tutur Ilokusi

Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau mengintormasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. Sebagai contoh pada kalimat berikut:

Contoh:
1.    Wenten Kuluk Galak

Analisinya yaitu kontruksi kalimat tersebut biasanya ditemukan di pinggir-pinggir pagar atau di pintu-pintu rumah. Tuturan ini tidak hanya menyampaikan informasi tentang keberadaan anjing disebuah rumah tetapi lebih bermakna agar yang membaca tuturan tersebut berhati-hati. Jadi bersifat perintah. Apalagi pembacanya adalah pencuri atau tafsirannya untuk menakuti.

2.    Ujian Matematika jagi kalaksanayang Malih kalih rahina

Analisisnya yaitu kalimat tersebut jika diucapkan seorang guru kepada muridnya maka ilokusinya yaitu guru menyampaikan kepada muridnya untuk bersiap-siap bahwa ujian sudah dekat. Tetapi jika orang tua, berartia seruan berhenti untuk bermain tetapi harus belajar dengan baik.

3.    I Dadong kari sungkan.

Analisisnya yaitu kalimat tersebut jika diucapkan kepada temannya yang menghidupkan radio dengan volume tinggi, berarti bukan saja sebagai informasi tetapi juga untuk menyuruh agar mengecilkan volume atau mematikan radionya

 

Contoh percakapan menggunakan Tindak Tutur Ilokusi

Ring galah solas tengai,ring margine I ketut sareng I Komang makta motor jagi ke Kota derika wenten Pacalang kalih saha nyetop Motorne I Komang

Polisi               : Om Suastiastu

I Komang        : Swastiastu Pak!

Pecalang          : Adik Mau Kemana niki???

I Komang        : Tyang jagi ke Kota Pak!!

Polisi               : Kanggeang dumun dik,,,,ngih Nak wenten Ngaben malih 15 Meter saking driki

I komang         :Ow kenten,,Suksma Pak Ngih!!!!

Polisi               : Ngih,….

                        Dari percakap diatas dapat diidentifikasi bahwa Polisi Menyuruh I

Komang untuk berhati-hati membawa motor karena sedang ada upacara Ngaben lagi 15

Meter,atau menyuruh I Komang untuk mencari jalan lain untuk pergi ke Kota

 

2.4 Pengertian Tindak Tutur Perlokusi

Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Tuturan yang diucapkan oleh seseorang penutur sering kali memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutionary force) bagi yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat terjadi karena disengaja ataupun tidak disengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi (Wijana, 2011:24).

Contoh:
1.    Nilai raportne I Komang Luung Pisan

Analisisnya yaitu dari segi ilokusi, bisa berarti pujian atau ejekan. Pujian kalau memang nilai rapor itu bagus, dan ejekan kalau nilai rapor itu memang tidak bagus. Sedangkan dari segi perlokusi, dapat membuat si pendengar itu menjadi sedih dan sebaliknya dapat mengucapkan terimakasih.

2.    Sampun Pitung Rahina Kamarne nenten polih kabersihin

Analisisnya yaitu dari segi ilokusi, menyuruh untuk membersihkan, sedangkan dari segi perlokusi, si anak akan mengambil sapu dan membersihkannya

3.    I Gede nenten naur SPP.

Analisinya yaitu kalimat tersebut jika diucapkan seorang guru kepad murid-muridnya, maka ilokusinya adalah meminta agar teman-temannya tidak iri, dan perlokusinya adalah agar teman-temannya memaklumi keadaan ekonomi orang tua Samin

4.    Ibi ajik bline kari sungkan.

Analisisnya yaitu kalimat tersebut jika diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan temannya. Maka ilokusinya adalah untuk meminta maaf, dan perlokusinya adalah agar orang yang mengundangnya harap maklum.

 

Contoh Percakapan bahasi bali menggunakan Tindak Tutur Perlokusi

 

Putu     : Om Suastiastu

Gede   : Om Suatiastu

Putu     : Lakar kija De….????dados magegesonan pesan ???

Gede   : Ow Bli Putu,Tyang jagi ka Jero Kadeke dumun!!

Putu     : Wenten Pakaryan napi derika ???

Gede   : Mangkin jagi nyujuk taringan,nyangra Upacara Potong Gigi malih 5 rahina ring jerone I Kadek!Putu…ten merika????

Putu     : Aduh,,,,,Tyang kari sungkan niki!!!

Gede   : Ow Kenten dumogi gelis kenak bli ngihh,,,!yening kenten tyang pamit dumun,,,mangda nenten kasepan tyang!

Putu     : Ow Ngih-ngih!!salam sareng jero kadek

Gede   : Ngih!

            Dari percakapan itu dapat diidentifikasi putu saat mengucapkan kalimat “Aduh,,,,,Tyang kari sungkan niki!!!” Menggunakan tindak tutur Perlokusi.Makna perlokusinya adalah ,agar si Gede maklum,Putu tidak bisa hadir karene dia sakit,dan berharap gede menyampaikan kepada jero kadek tentang keadaanya yang masih sakit,dan tidak bisa menghadiri undangan tersebut!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.Kesimpulan

Tindak tutur merupakan gejala individual yang bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasi si penutur dalam meghadapi situasi tertentu. Dalam peristiwa tutur  dilihat pada tujuan peristiwanya, tetapi dalam  tindak tutur lebih memperhatikan  pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya.

Tindak Tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.

Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Tindak ilokusi ini biasanya berhubungan  dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh menawarkan, dan menjanjikan.

Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku non linguistik dari orang lain itu.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFAR PUSTAKA

 

Jurnal Bastra.2011. “Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi” . http://sarifudinbastra.blogspot.com/2011/12/tindak-tutur-lokusi-ilokusi-dan.html.Diakses Tanggal 18 Oktober 2012 16:59

 

Sulispurwitaa.2012.  “Lokusi, Ilokusi Dan Perlokusi Hubungannya Dengan Tindak Tutur Dalam Kehidupan Sehari-Hari”. http://sulispurwitaa.wordpress.com/2012/08/03/lokusi-ilokusi-dan-perlokusi-hubungannya-dengan-tindak-tutur-dalam-kehidupan-sehari-hari/Diakses tanggal 18 Oktober 2012 17:03

 

http://juprimalino.blogspot.com/2011/06/tindaktutur-lokusi-ilokusi-perkolusi.html

 

KEPEMIMPINAN HINDU

Berdasarkan uraian pendahuluan dan rumusan masalah di atas, berikut ini akan dideskripsikan secara singkat tentang hal-hal yang menjadi rumusan masalah tersebut yaitu:

Menurut Kamus Bahasa Indonesia secara garis besar “Konsep” adalah rancangan, ide atau pengertian, dan proses. Sedangkan “Perspektif” adalah sudut pandang atau pandangan.

Kepemimpinan dalam Hindu disebut dengan istilah Nitisastra. Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata Niti dan Sastra. Niti berarti kemudi, pemimpin, politik dan sosial etik, pertimbangan, dan kebijakan. Sedangkan Sastra berarti perintah, ajaran, nasehat, aturan, teori, dan tulisan ilmiah.

Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia sebagai hamba Tuhan terhadap hukum Tuhan (Rtam), sumber kepatuhan manusia sebagai warga negara pada hukum  dan kebijaksanaan pemerintah dari lembaga keumatan dan negara yang bersangkutan. Atau dengan kata lain Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia terhadap Tuhan, Sesamanya, dan lingkungannya, serta Dharma negaranya.

Nitisastra ini secara sederhana dapat dikatakan bahwa, Nitisastra bukan hanya diperlukan tetapi juga dapat dipergunakan oleh pemimpin suatu Negara, oleh pemerintah atau pengambil kebijakan dalam kelembagaan umat Hindu serta dapat juga diamalkan oleh semua umat manusia pada umumnya dan khususnya oleh umat Hindu sesuai dengan Varna Dharma-nya.

Nitisastra dapat juga dipergunakan untuk membuat rumusan kembali, mengakulturasikan suatu konsep dengan konsep yang lain sehingga memperoleh suatu konsepsi baru (pemikiran beragama, berorganisasi dan bernegara yang bersifat pembaharuan, dinamis, relevan dan mengikuti perkembangan zaman atau kekinian/anutana) dan mengantarkan untuk berpandangan jauh kedepan.

Nitisastra ini sangat dibutuhkan dan dapat dijadikan pedoman oleh umat Hindu, pemimpin/pemerintah/pengambil kebijakan dalam kelembagaan umat Hindu serta untuk menata hidup dan kehidupan umat beragama Hindu dalam kewajibannya (swadharma) terhadap kepatuhan dengan Dharma Agama-nya.

Selain ajaran Kepemimpinan/Nitisastra maka perlu adanya seseorang pemimpin yang dapat mengaktualisasikan ajaran Nitisastra ini. Karena Pemimpim dan Kepemimpinan ibarat mata uang. Dapat berfungsi bila keduanya sisinya utuh dan saling mengisi. Bila salah satu tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, semua itu memerlukan perjuangan, pengorbanan, pembelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinannya.

Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakan bawahannya. Fungsi menggerakan dalam hal ini adalah fungsi pembimbingan dan pemberian pemimpin serta menggerakan orang-orang atau kelompok orang-orang itu agar suka dan mau bekerja.

Fungsi pemimpin adalah sangat penting. Karena bagaimanapun rapinya perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin serta tertibnya pengorganisasian ataupun tepatnya penempatan orang, hal ini belum menjamin dapat bergeraknya oraganisasi ke arah sasaran atau tujuan.

Kemudian dalam kehidupan dan aktivitas keagamaan umat Hindu, ada tiga unsur/komponen  utama yang berperanan dalam pelaksanaannya yaitu yang disebut Tri Manggalaning Yadnya, sebagai berikut :

1.      Sang Yajamana, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Bhakti dan Karma.

2.      Sang Pancagra atau Sang Widya, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada  Karma dan Jnana yoga.

3.      Sang Sadhaka, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Jnana dan Raja yoga.

 

Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan bahwa “Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajaman, Sang Widya, dan Sang Sadakaadalah rancangan, ide atau pengertian, dan proses kepemimpinan Hindu dari sudut pandang fungsi atau TUPOKSI dari masing-masing unsur/komponen Tri Manggalaning Yadnya.

Secara umum tentang Pemimpin, Kepemimpinan dan Fungsi Pemimpin telah di uraikan secara singkat. Berdasarkan uraian itu, bila dikaitkan dengan fenomena sebuah aktivitas-aktivitas keagamaan/Yadnya di tengah-tengah kehidupan umat Hindu baik secara Indhividu (persona)l maupun dalam kebersamaan, kelembagaan umat  (komunal) tidak sedikit yang masih belum memahami tentang apa itu pemimpin, kepemimpinan, dan fungsi pemimpin dan kepemimpinan itu, tidak sedikit pula orang sudah memahami tetapi belum atau tidak mau untuk mengaktualisasikannya, bahkan yang paling parah adalah sudah memahami tetapi malah mengabaikan dan justru mencari-cari kesalahan untuk merusak sistem yang telah disepakati. Tentunya untuk yang satu  ini jangan dibiarkan mencapai titik klimaks yang dapat mengahancurkan kebersamaan kita dalam membangun Hindu yang lebih besar dan berkualitas dalam kontek beragama kebersamaan. Oleh karena itu mari kita sebagai umat Hindu terutama bagi orang-orang yang ingin merusak sistem atau tatanan kebersamaan dalam keberagamaan Hindu agar tidak menuju jurang kegelapan (Timira) mari kita cerahi jiwa dan pikiran kita dan berguru terhadap ucap sastra suci Veda sebagai berikut:

 

“Orang bodoh dapat diajari  dengan mudah, orang berpengetahuan paham dengan hanya sedikit diberi petunjuk, sedangkan orang yang memiliki sedikit ilmu pengetahuan merasa dirinya paling pandai, Dewa Brahma sekalipun tidak dapat mengajarinya”     (Niti Sataka, 2).

 

“…Busana Keberanian adalah lidah yang terkendali, Busana Pengetahuan adalah kedamaian, Busana kepandaian adalah kerendahan hati, …, Busana Kebesaran adalah memaafkan,…” (Niti Sataka, 80).

 

Pemikiran-pemikiran atau Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka, harus didasari oleh dasar keimanan yang berdasarkan kitab suci Veda. Berikut ini beberapa sumber-sumber sastra suci Veda yang  ada yang berhasil di pupul dan disertai beberapa analogi dari penulis.

Beberapa petikan Mantra/Sloka yang dapat dipedomani adalah sebabagai berikut:

 

Ø Brhad Aranyaka Upanisad, Mandala I. Sukta 3. Mantra 28

“Om Asato masat gamaya,

Tamaso ma jyotir gamaya,

Mrtyor ma amrtam gamaya”

     Terjemahan:

“Ya Tuhan Bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati, Bimbinglah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, Bimbinglah kami dari kematian Rohani menuju kehidupan yang kekal abadi”.

 

Mantra upanisad ini, merupakan sebuah pengakuan dan pernyataan diri dari umat manusia kehadapan Tuhan, bahwa sebenarnya manusia tidak mampu memimpin, membimbing/menuntun dirinya secara sempurna baik jasmani maupun rohaninya. Bermula dari sebuah kesadaran diri itulah manusia memohon bimbingan/tuntunan kepada Tuhan. Pertama; memohon bimbingan agar mendapat dorongan rohani untuk terus menuju kebenaran yang sejati (Sat) dan menjauhi ketidak benaran (Asat). Kedua; memohon bimbingan dari kegelapan (Tamas) menuju jalan yang terang (Jyoti). Jalan yang terang itu adalah jalan yang menuju kehidupan yang bahagia dengan landasan Widya Dharma (ilmu pengetahuan tentang dharma). Ketiga; memohon bimbingan agar mendapat kekuatan rohani untuk mengubah kematian (kesengsaraan) menuju kehidupan yang kekal abadi. Mantra ini juga memberikan inspirasi bagaimana memimpin diri dan orang lain untuk menjalani dinamika kehidupan dengan berlandaskan kedamaian untuk membuahkan hasil kebahagiaan yaitu Jagadhita dan Moksa.

 

Ø Canakya Nitisastra, Adhyaya V. Sloka 1:

” Guru Agnir Dvijatinam,

Varnanam Brahmana Guruh,

Patireva Guruh Strinam,

Sarvasya Bhayagato Guruh”.

Terjemahan.

Dewa Agni adalah Guru bagi para Dwijati (Sang Sadaka), Varna Brahmana adalah Guru bagi Varna Ksatria, Waisya dan Sudra, Guru bagi seorang istri adalah suami, dan seorang tamu adalah Guru bagi semuanya”.

 

            Sloka Canakya Nitisastra ini merupakan sebuah pedoman bagaimana etika berguru, ajaran bhakti, sehingga terjadi sebuah tatanan kehidupan yang  harmonis, etika sosial dengan saling menghargai satu sama yang lain dan oleh Catur Varna bukan justru dijadikan sebagai stratifikasi sosial untuk mempertahankan status Co. Tetapi intisari pesan dari Sloka ini adalah ada pada baris pertama dan terakhir bahwa sesungguhnya semua harus berguru kepada Agni (Tuhan) dan semua harus berguru kepada Tamu. Kata Tamu ini adalah spirit yang ada diluar diri manusia, siapa spirit itu ? yaitu seluruh sekalian alam (Tuhan).

Etika sosial untuk saling menghargai satu sama yang lain, tentang kewajiban-kewajiban agama yang sifatnya wajib dilakukan bagi keempat Varna  Dharma juga tersurat dan tersirat di dalam Kitab Parasara Dharmasastra adalah sebuah Kitab yang diyakini sebagai kitab Suci Veda Smerti di Zaman Kali (Parasara Dharmasastra, Adhyayah I dan Adhyayah II).

 

Ø Bhagavadgita, IV.13 dan XVIII.41 :

“Catur varnyam maya shristam,

Guna karma vibhagasah,

Tasya kartaram api mam,

Viddhy akartaram avyayam”.

Terjemahannya.

Catur Varna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian Bakat dan Kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya Aku, Aku tidak berbuat dan merubah diri-Ku”.

(Bhagavadgita, IV.13)

 

“Brahmana kshatriyabvisayam,

 

 Image